Mengapa Keamanan Siber Harus Menjadi Inti Strategi ESG Perusahaan?

Mengapa Keamanan Siber Harus Menjadi Inti Strategi ESG Perusahaan?

Jika terjadi kegagalan dalam sistem keamanan siber perusahaan, biasanya dampaknya terasa ke berbagai divisi lainnya atau bahkan berpengaruh ke pelanggan. Oleh karena itu, sudah banyak perusahaan yang mulai melihat keamanan siber bukan hanya sekadar isu teknis, tetapi sebagai bagian penting dari strategi ESG (Environmental, Social, and Governance).

Semakin banyak perusahaan meningkatkan investasi ESG, tentunya sistem keamanan digital menjadi faktor penting untuk melindungi reputasi, kepercayaan investor pun tetap terjaga, serta mempertahankan skor ESG yang baik. Di sejumlah industri, aspek keamanan siber bahkan menjadi penilaiain tata kelola (governance).

Oleh karena itu, perusahaan perlu meninggalkan stigma bahwa keamanan siber adalah urusan tim IT semata. Perusahaan perlu memprioritaskan keamanan data dan dampak sosialnya sebagai tanggung jawab bersama.

Melindungi Data Konsumen

Saat ini, kasus pencurian identitas dan penyalahgunaan terus meningkat secara global, termasuk di Asia Pasifik. Individu yang datanya bocor akibat insiden perusahaan memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban kejahatan finansial.

Sudah banyak pemimpin bisnis yang memahami bahwa kebocoran data bisa merugikan secara finansial dan reputasional. Namun, dalam perspektif ESG, dampaknya terhadap konsumen jauh lebih luas. Perlindungan data bukan hanya soal menghindari denda atau gugatan hukum, tetapi juga menjaga stabilitas finansial dan keamanan individu.

Karena itu, perlindungan data seharusnya diperlakukan sebagai inisiatif ESG yang utama. Ini berarti menyediakan anggaran yang memadai, memastikan pelatihan keamanan rutin bagi karyawan, serta membangun kesadaran bahwa setiap individu dalam organisasi berperan dalam mencegah insiden siber.

Dari sisi teknologi, perusahaan harus memastikan penggunaan perangkat lunak yang selalu diperbarui serta bekerja sama dengan vendor yang memiliki protokol keamanan kuat. Hal ini semakin penting seiring meningkatnya penggunaan teknologi seperti AI dan IoT yang menjadi target empuk bagi pelaku kejahatan siber.

Baca juga:

Biar Data Bekerja untuk Anda, Ini 7 Langkah Memilih Platform BI yang Tepat

Apa yang Harus Bisnis Lakukan dan Hindari Agar Tak Langgar UU PDP?

Menjaga Infrastruktur dan Peralatan Vital

Banyak perusahaan memanfaatkan IoT dan otomatisasi untuk mencapai target ESG, seperti efisiensi energi, pengurangan limbah, atau peningkatan keselamatan kerja. Namun, ketika sistem yang mengendalikan peralatan vital diretas, konsekuensinya bisa signifikan.

Serangan terhadap sistem pendingin pusat data, misalnya, dapat meningkatkan konsumsi energi secara drastis. Efeknya, listrik bisa tiba-tiba tak kuat menahan daya dan mati total. Gangguan ini tentu akan berdampak pada layanan secara luas..

Dalam konteks ESG, perusahaan perlu mengidentifikasi sistem dengan dampak tinggi terhadap publik dan memastikan perlindungan maksimal melalui pembaruan rutin, kontrol akses ketat, serta kebijakan kata sandi yang kuat.

Selain itu, penting untuk memiliki rencana kontinjensi, seperti sistem cadangan, prosedur manual sementara, dan strategi komunikasi krisis, jika pertahanan utama gagal.

Menjamin Akurasi Data ESG

Pelaporan ESG yang tidak akurat dapat merusak kredibilitas perusahaan dan memicu tuduhan praktik manipulatif seperti greenwashing. Tanpa tata kelola data yang kuat, regulator dan publik sulit menilai komitmen ESG suatu organisasi secara objektif.

Dengan kebijakan data governance yang ketat dan kontrol akses berbasis peran, perusahaan dapat menjaga integritas data ESG. Teknologi seperti AI dan machine learning juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi anomali atau potensi manipulasi data.

Data yang akurat dan terorganisir memungkinkan pengukuran KPI ESG yang lebih andal. Hal ini membantu manajemen melakukan penyesuaian strategis yang tepat sasaran dan berdampak nyata.

Melibatkan Ahli Keamanan Siber dalam Strategi ESG

Seiring ESG semakin menjadi topik strategis di level direksi, penting untuk melibatkan berbagai perspektif, termasuk pakar keamanan siber. Dengan memasukkan subject matter experts (SME) keamanan siber dalam perumusan strategi ESG, perusahaan dapat memperoleh pandangan yang lebih komprehensif mengenai risiko dan mitigasinya.

Inisiatif ESG umumnya mencakup upaya membuat operasional lebih aman, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi masyarakat. Keamanan siber menjadi fondasi yang menopang semua upaya tersebut, memberikan stabilitas dan kepercayaan pada proses yang dijalankan.

Hanya dengan menjadikan keamanan siber sebagai bagian inti dari strategi ESG, perusahaan dapat bergerak maju dengan keyakinan, serta membangun kredibilitas jangka panjang di mata investor, regulator, dan masyarakat.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kode bahasa komentar.
Dengan mengirimkan formulir ini, Anda setuju dengan pemrosesan data pribadi sesuai dengan Kebijakan Privasi.

Postingan Terkait