Saat ini, cara mencari dan menemukan informasi di internet mulai berubah. Jika sebelumnya orang lebih sering menggunakan kata kunci, kini lebih banyak yang mengajukan pertanyaan langsung ke platform berbasis AI, seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Perplexity.
Banyak yang meminta rekomendasi, membandingkan pilihan, mencari validasi, bahkan mengambil keputusan tanpa harus membuka banyak halaman web.
Perubahan ini yang membuat marketing funnel tidak lagi berjalan secara linear. Perjalanan pelanggan kini tersebar di berbagai platform pencarian, search engine, dan teknologi AI generatif.
Di sinilah konsep Answer Engine Optimization (AEO) menjadi semakin penting.
Jika sebelumnya tujuan utama adalah mendapatkan peringkat tinggi di halaman hasil pencarian, kini brand juga perlu memastikan kontennya dipilih sebagai jawaban oleh sistem AI.
Lalu, bagaimana cara membangun marketing funnel yang efektif di era AI-driven search?
1. Mulailah dari pertanyaan
Strategi SEO sebelumnya selalu fokus pada kata kunci. Namun, di era AI-driven search, yang lebih penting adalah memahami pertanyaan dan niat pengguna.
Alih-alih hanya menargetkan kata kunci seperti email marketing tools, cobalah menjawab pertanyaan yang lebih spesifik, seperti:
- Apa software email marketing terbaik untuk tim kecil?
- Bagaimana cara mengotomatiskan email marketing tanpa coding?
- Apa perbedaan email marketing dan marketing automation?
Sistem AI cenderung memprioritaskan jawaban yang langsung, relevan, dan kontekstual. Karena itu, konten yang dibangun berdasarkan pertanyaan nyata pengguna memiliki peluang lebih besar untuk muncul dalam hasil AI-generated responses.
Dalam praktiknya, setiap kata kunci utama dapat dipecah menjadi berbagai pertanyaan yang sering diajukan audiens. Pastikan jawaban diberikan secara jelas sejak awal artikel dan disusun dengan format yang mudah dipahami.
Saat ini, Anda tidak hanya mengoptimalkan konten untuk mendapatkan klik, tetapi juga agar konten tersebut layak dikutip oleh AI.
Baca juga:
Apa Itu Content Plan dan Apa Pentingnya?
Strategi Konten Instagram 2026: Memahami Algoritma dan Waktu Terbaik untuk Mengunggah
2. Ubah peran top-of-the-funnel menjadi lapisan visibilitas AI
Konten top-of-the-funnel (TOFU) selama ini bertujuan meningkatkan awareness dan menjangkau audiens baru.
Namun dalam AI-driven search, TOFU memiliki fungsi tambahan: menjadi sumber informasi yang dapat dipahami dan digunakan oleh AI.
Perlu diingat bahwa AI tidak membaca halaman seperti manusia. AI mengekstrak informasi, mengidentifikasi konteks, lalu menyusun jawaban berdasarkan informasi yang dianggap paling relevan.
Karena itu, konten TOFU perlu memiliki struktur yang jelas, mudah dipindai dan dipahami, menyediakan jawaban lengkap dalam satu halaman, serta menjelaskan sebab akibat secara keseluruhan.
Format seperti artikel edukatif, daftar tips, panduan lengkap, atau explainer content cenderung bekerja lebih baik dalam lingkungan pencarian berbasis AI.
Dengan kata lain, TOFU bukan lagi sekadar tahap awareness, tetapi juga menjadi fondasi visibilitas AI bagi brand Anda.
3. Bangun middle-of-the-funnel dengan kedalaman konten
Di tahap middle-of-the-funnel (MOFU), banyak brand masih berfokus pada upaya persuasi.
Padahal dalam AI-driven search, faktor yang semakin penting adalah kredibilitas dan kedalaman informasi.
Sistem AI cenderung mengutamakan sumber yang memberikan konteks, detail, dan penjelasan yang komprehensif. Karena itu, konten yang dangkal atau sekadar berisi daftar fitur menjadi kurang efektif.
Sebaliknya, konten seperti berikut lebih berpotensi memberikan hasil studi kasus dan implementasi nyata, panduan penggunaan yang mendalam, perbandingan produk dan objektif, serta analisis kapan dan mengapa sebuah solusi cocok digunakan.
Pada tahap ini, tujuan Anda bukan hanya memengaruhi keputusan calon pelanggan, tetapi juga membangun reputasi sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya.
Semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap konten Anda, semakin besar peluang AI menjadikannya referensi.
4. Jadikan bottom-of-the-funnel sebagai Konten Validasi Keputusan
Perubahan terbesar justru terjadi pada tahap bottom-of-the-funnel (BOFU).
Saat mendekati keputusan pembelian, banyak pengguna kini bertanya langsung kepada AI untuk memvalidasi pilihan mereka.
Mereka mencari jawaban atas pertanyaan seperti:
- Apakah produk ini layak digunakan?
- Apa kelebihan dan kekurangannya?
- Solusi mana yang lebih cocok untuk kebutuhan saya?
- Risiko apa yang perlu dipertimbangkan?
Karena itu, konten BOFU tidak lagi cukup jika hanya berisi promosi.
Yang lebih efektif adalah menyediakan informasi yang jujur, transparan, dan membantu pengguna mengambil keputusan secara objektif.
Beberapa format yang relevan antara lain:
- Halaman perbandingan produk.
- Artikel kelebihan dan kekurangan.
- FAQ yang menjawab keberatan umum pelanggan.
- Studi kasus penggunaan nyata.
- Skenario implementasi berdasarkan kebutuhan bisnis.
Pada tahap ini, audiens lebih membutuhkan validasi daripada persuasi. Dan AI cenderung lebih menyukai konten yang terasa informatif dibandingkan terlalu promosi.
5. Hubungkan funnel dengan feedback loop berbasis AI
Marketing funnel tradisional sering dianggap sebagai proses satu arah.
Namun pada kenyataannya, funnel modern harus terus belajar dan berkembang berdasarkan perilaku pengguna.
Dengan memanfaatkan data dan AI, bisnis dapat memahami di mana pengguna berhenti dalam perjalanan mereka, konten mana yang paling sering menghasilkan konversi, pertanyaan yang paling sering muncul, dan topik yang perlu diperbarui atau diperluas.
Informasi tersebut kemudian digunakan kembali untuk menyempurnakan strategi konten dan pengalaman pelanggan.
Inilah yang disebut sebagai feedback loop. Alih-alih hanya mengarahkan pengguna ke tahap berikutnya, funnel modern juga harus mampu belajar dari setiap interaksi yang terjadi.
Platform terpadu seperti Zoho Marketing Plus dapat membantu tim pemasaran mengelola kampanye, konten, dan analitik dalam satu sistem sehingga proses optimasi menjadi lebih mudah dan terukur.
Saatnya Menyesuaikan Funnel dengan Cara Orang Mencari Informasi Saat Ini
AI-driven search tidak menghilangkan fungsi marketing funnel. Sebaliknya, teknologi ini mengubah cara funnel bekerja.
Konten top-of-the-funnel kini berfungsi sebagai jawaban yang dapat ditemukan AI.
Konten middle-of-the-funnel menjadi sumber konteks dan edukasi yang membangun kepercayaan.
Sementara konten bottom-of-the-funnel berperan sebagai alat validasi yang membantu calon pelanggan mengambil keputusan.
Brand yang berhasil bukanlah yang memproduksi konten paling banyak, melainkan yang mampu menciptakan konten yang mudah dipahami, dipercaya, dan direkomendasikan oleh sistem AI.
Karena di era AI-driven search, visibilitas tidak lagi hanya tentang berada di peringkat teratas. Visibilitas adalah tentang menjadi jawaban yang dipilih.

Comments